Sabtu, 14 November 2015

Load Game

"Bal, sepertinya saya salah pilih jurusan"

Aah.. Mendekati akhir semester ganjil pertama ini yang kalimat di atas atau yang senada semakin sering terdengar. Mulai dari teman yang duduk di kursi sebelah ataupun yang duduk di kampus sebelah. Ada yang ngomong sambil ketawa, ada juga yang ngomong dengan penuh kesungguhan di dalam hati. Bagaimanapun ada satu yang ditangkap, "saya masih punya kesempatan".

Sebelum melangkah lebih jauh, penulis ingin menegaskan bahwa tulisan kali ini bukan berarti saya tidak setuju dengan orang yang memilih untuk berjuang lagi demi masuk perguruan tinggi (lagi). Setiap kali sampai kalimat di atas  kepada saya, saya menjawab: "masih ada waktu untuk berpikir, bro". Yah sepertinya itulah jawaban yang lumayan tepat karena tidak ada hak saya untuk mendukung apalagi melarang, karena kita dalam kondisi yang berbeda. Berbeda.

Bisa saja kondisi menjadi terbalik jika penulis tidak dimudahkan oleh Allah sampai di kampus ini, bisa saja. Namun saya mencoba mengambil langkah yang cukup aman ketika dahulu, yakni tidak terlalu menginginkan "kedai kopinya" tetapi tentang "kopi" yang bisa dijual di banyak kedai. Tetapi sekali lagi, kondisi bisa saja terbalik. Oleh karena itu, "masih ada waktu untuk berpikir, bro" saya pilih sebagai respon saya terhadap kalimat paling atas.

sumber: noufaldiary.blogspot.com
Mungkin ada yang mulai berpikiran kalau saya bakal membahas seperti yang kembali marak di media sosial: "TIPS SUKSES MEMILIH JURUSAN", "5 CARA JITU LOLOS SNMPTN", ataupun "CARA LOLOS SBMPTN DENGAN TUTUP MATA" (yang terakhir itu tidak ada). Bukan. Kali ini kita mencoba mengulasnya dengan kata Load Game. -"wah, udah lama gak posting apa-apa, Iqbal ternyata main game"-. Eits..


  ***

Seringnya bermain PS2 -walaupun sudah ada PS3, PS4, dst- ketika masih di Sungai Penuh membuat saya sering berimajinasi tentang kata load game. Jika bermain suatu game bergenre sport dan kita kalah yang menyebabkan kita bakal tidak lolos ke tahap selanjutnya, kita bisa melakukan cara sederhana:

1. Tekan tombol power (setelah mati maka mesin mesin akan hidup lagi)
2. Lalu load saat sebelum kekalahan penting tadi
3. Usaha semaksimal mungkin

Pecundang memang, tapi siapa yang dirugikan? Kalaupun anda bermain dengan menyewa, itu tidak akan membuat abang PS-nya marah. Apalagi di game bergenre adventure (misal: GTA), yang harus anda perhatikan hanyalah JANGAN LUPA SAVE GAME. Dengan hanya pergi ke save house dan melakukan save game maka Anda sudah seperti tak-terkalahkan (asumsikan kita tidak mengenal cheat. Apa itu cheat?), walaupun sebenarnya sudah gagal berkali-kali. Sederhana. 

Pola pikir ini terus terbentuk dengan prinsip "If you lose, just load it!". Selain dari PS2 prinsip ini juga seakan menunjukkan tajinya di salah satu film yang dibintangi Tom Cruise, Edge of Tomorrow. Di film ini mungkin lebih ekstrim, aturannya adalah "You get injured on the field, you better make sure you die".

Hasil screenshoot langsung dari film 'Edge of Tomorrow'
Dua kasus ini (game PS2 dan film Edge Of Tomorrow) punya satu ide yang sama: Load Game dengan cara yang berbeda. Ide ini juga yang sempat terlintas ketika masa-masa sulit (baca: peralihan dari tidak lolos SNMPTN ke persiapan SBMPTN). Seandainya kita benar-benar bisa load game bisa saja saya tidak perlu susah-susah untuk tes dan menikmati libur panjang, tinggal cari saja peluang yang lebih besar. Jika gagal lagi? Load game lagi.

Untung saja saya masih waras dan tidak memikirkan ini berlarut-larut. Bagaimanapun SNMPTN hanya sekali, tidak mungkin memberikan kesempatan kedua. Tetapi SBMPTN dan ujian-ujian mandiri perguruan tinggi memberikan kesempatan itu, kesempatan kedua. Nah, karena kesempatan kedua itulah saya ingin menulis postingan kali ini.

Banyak penyebab yang mungkin membuat rekan-rekan kita berminat untuk menggunakan kesempatan kedua (atau ketiga) ini; bisa karena belum move on dari perguruan tinggi/ jurusan idaman dahulu, atau karena jatuh cinta pada perguruan tinggi / jurusan lain. Jika load game itu benar-benar ada, maka itulah solusi paling efektif untuk masalah ini.

1. Tekan tombol power (setelah mati maka mesin mesin akan hidup lagi)
2. Lalu load saat sebelum kekalahan penting tadi
3. Usaha semaksimal mungkin

Sederhana, tetapi.. SADAR WOY! Kita tidak di San Andreas-nya GTA sehingga bisa cabut saja listriknya atau kita saya bukanlah Tome Cruise sehingga lebih baik mati agar hidup dari awal lagi. Bukan. Oleh karena itu pasti kita harus mempertimbangkan ajakan "masih ada waktu untuk berpikir, bro" tadi. Banyak yang harus kita pertimbangkan, tidak sesempit masalah lolos atau tidaknya kita pada kesempatan kedua (atau ketiga) ini. Mulai dari niat sampai kemungkinan yang bakal terjadi setelah -seandainya- lolos. Berikut penulis coba mengulas satu-satu (secara ringan) beberapa hal yang bisa dipertimbangkan menurut penulis dan dari survey mendadak kepada teman-teman K-04 FMIPA. Cekidot.

  1. Niat
    Dalam hal apapun niatlah yang paling penting. "Innamal a'malu binniyat". Potongan hadits yang menjadi hadits pertama dalam shahih Imam Bukhari ini sudah cukup menggambarkan peran niat dalam setiap hal. Apalagi dalam mengambil kesempatan kedua ini. Mungkin sah-sah saja niatnya apapun, namun masalahnya jika niatnya hanya untuk "main-main" saja atau ingin "uji kemampuan" di SBMPTN atau tes mandiri. Bray, di luar sana banyak adik-adik atau rekan-rekanmu yang ingin ikut menikmati kuliah sehingga harus mempersiapkan diri sungguh-sungguh, sedangkan kamu hadir sebagai pengecil kesempatannya lolos. Syukur-syukur yang coba-coba ini tidak lolos, jika lolos maka akan lebih berbahaya. "Innamal a'malu binniyat"
  2. Biaya
    Setelah niat, saya langsung loncat ke masalah biaya. Biaya disini tidak terbatas biaya Rp. 100.000 untuk pendaftaran SBMPTN atau tes mandiri saja, tetapi biaya ketika kita masuk yang tentunya bukan jumlah yang kecil.
  3. Waktu (dari Firman Wahyudi)
    Satu tahun bagi kita bukan waktu yang sebentar, bro. Terkhusus untuk jurusan yang memang butuh waktu yang agak lama, ini benar-benar harus jadi bahan petimbangan. Banyak hal yang bisa-bisa saja ikut terkorbankan karena waktu ini, salah satunya adalah poin di bawah.
  4. Cewek yang diincar keburu nikah (dari M. Rizki Fadillah)
    Untuk bagian ini saya belum paham. Maaf, bro. Tapi pasti ada benarnya.
  5. Teman dan lingkungan yang berubah (dari Abiyoga)
    Ketika kita menjadi salah satu mahasiswa di suatu perguruan tinggi, kita tentunya perlu beradaptasi dengan teman-teman yang baru. Hal ini bagi sebagian orang bukanlah hal yang mudah. Namun jika ditinggalkan malah akan lebih berbahaya, sehingga mau tidak mau beradaptasi ke lingkungan baru menjadi kewajiban. Nah, bagaimana jika masuk lagi, tentunya adaptasi lagi. Bagi yang mudah untuk beradaptasi ini tidak menjadi persoalan, nah bagi kita susah (banget) akan menjadi problem besar.
  6. Ingat nasib adikmu! (dari Zulfikar 'Enji')
    Sekarang kita berbicara masalah perasaan, bray. Ini serius, ini tentang orang-orang yang udah berbahagia hampir sama bahagianya dengan kita yang lolos ke perguruan tinggi ini. Mereka yang sudah menancapkan harapan di dalam hati bahwa kesempatan lolos menjadi mungkin sejak kamu lolos. Coba bayangkan jika kita tes lagi, dan bayangkan apa yang dirasakan adik-adik itu. Ceritakan pada saya.. Kalau masalah perasaan masih lumayan, kita hanya mengurangi motivasinya. Bagaimana jika kita juga merusak secara teknis? Apa yang disebut orang sebagai blacklist bisa-bisa saja terjadi. Ini baru fatal.
  7. Jatuh cinta pada jurusan lain lagi
    Sekarang kita berbicara masalah perasaan lagi, bray. Saat ini kita memutuskan untuk tes lagi di jurusan lain bisa saja karena kita baru saja jatuh cinta pada jurusan baru tersebut. Mungkin karena jurusan tersebut lebih baik dari jurusan sekarang, atau mungkin karena alasan-alasan yang tidak bisa dijelaskan. Yah namanya saja jatuh cinta, alasan kadang bisa diabaikan.
    Dari sana kita bisa menyimpulkan bahwa jatuh cinta pada suatu jurusan bukan hal yang terbatas untuk sekali atau dua kali saja, kan? Dengan kata lain, jika kita memenuhi hasrat untuk memakai kesempatan ini, kita sama saja membuka peluang untuk jatuh cinta lagi di tahun berikutnya. Apakah ada jaminan untuk tidak jatuh cinta lagi?

    Mungkin ada yang bakal menyanggah pernyataan di atas dengan lirik lagu Sheila On 7:

    "Mudah saja bagimu.. Mudah saja untukmu.. Andai saja.. Cintamu seperti cintaku.."

    Mohon maaf, jawabanku: "Tolonglah.."


***

Baik, sebagai penutup saya ingin membantu dengan memberikan satu solusi bagi yang berubah pikiran, tidak jadi tes lagi. Intinya berawal dari poin ke-7 di atas. Belajar dari guru kita, Salim A. Fillah, dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang ia menekankan pentingnya mengubah makna dari jatuh cinta menjadi bangun cinta. Mari kita tengok ke belakang, mungkin jurusan yang telah kita jalani ini dahulu adalah produk dari jatuh cinta kita. Seperti penjelan di poin ke-7, ini memungkinkan kita untuk jatuh cinta lagi dan lagi. Kemungkinan kita untuk jatuh cinta pada suatu jurusan ini tidak sebanding dengan batas maksimum tes SBMPTN (3 kali), belum lagi mempertimbangkan banyak hal lain.

Sekali lagi tengok ke belakang, kita gunakan solusi yang diberikan Ustad Salim: Mari bangun cinta! Mari kita membangun cinta di jurusan kita yang sekarang. Temukan titik-titik keindahan di jurusan ini yang membuat kita semakin ingin membangun cinta. Niatkan karena Allah ta'ala, maka usaha kita untuk bangun cinta ini bisa menjadi ungkapan syukur atas kemudahan yang diberikan oleh Allah sehingga bisa duduk di kampus ini dan syukur atas segala nikmat-Nya. "Masih ada waktu untuk berpikir, masih ada waktu untuk bangun cinta, bro."





"Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraph sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga."
-Salim A. Fillah-

  

Selasa, 27 Oktober 2015

Need-Know-How-Solve Method

Di dalam menyelesaikan persoalan matematis baik di dalam Engineering maupun dalam bidang lainnya, ada berbagai cara yang dapat kita tempuh untuk dapat menyelesaikan masing-masing persoalan tersebut. Salah satu dari caranya adalah dengan metode Need-Know-How-Solve. Metode ini memiliki banyak keuntungan karena dapat memudahkan kita menyelesaikan permasalahan secara sistematis. Beberapa keuntungannya adalah:

  1. Menghindari menyelesaikan masalah yang salah
  2. Merumuskan proses penyelesaian masalah
  3. Membuat nilai lebih baik meski jawaban tidak tepat.


Dikutip dari dari buku Exploring Engineering, inti dari metode ini adalah:

“The essence of the method is to realize that once you have correctly defined the variable you need, you will realize that you know a lot more about the problem than you thought you did. With the aid of that knowledge, there is a method (how) to solve the problem to an appropriate level of accuracy.”

Berikut kami sajikan beberapa contoh persoalan dan bagaimana memnemukan solusinya dengan menggunakan Need-Know-How-Solve Method

Persoalan 1

Seorang investor agroindustri di Sumatera ingin membeli lahan perkebunan seluas mungkin dengan ukuran bujur sangkar. Modal investasinya adalah 320 juta rupiah. Harga lahan dan pengerjaannya adalah 1 miliar per hektar. Biaya konstruksi pagar batas lahan adalah 1 juta rupiah per 100 meter. Berapa besar ukuran lahan yang dapat dibeli?

Penyelesaian 1
Need
o      Ukuran lahan yang dapat dibeli oleh investor.
Know   
o      Modal yang dimiliki investor adalah Rp. 320.000.000.
o      Harga lahan dan pengerjaan adalah Rp. 1.000.000.000 per hektar yang setara dengan Rp. 100.000 per meter persegi
o      Harga konstruksi pagar batas lahan adalah Rp. 1.000.000 per 100 meter
How
o      Kita mengetahui bahwa investor ingin membuat lahan berupa bujur sangkar, oleh karena itu setiap sisi dari lahan adalah sama. Kita misalkan panjang dari masing-masing sisi adalah x. Sehingga panjang pagar adalah 4x dan luas nya adalah x2.
o   Jadi, biaya total harus sama dengan modal yang dimilki investor. Sehingga

Panjang pagar (meter) x Rp.1.000.000 / 100 (meter) + Luas lahan (meter persegi) x Rp.1.000.000 / 1 (meter persegi) = Total biaya

                Dapat ditulis

4x (meter) × Rp.1.000.000 / 100 (meter) + x2 (meter persegi) × Rp.100.000 / 1 (meter persegi) = Rp. 320.000.000

               Solve

4x (meter) × Rp.1.000.000 / 100 (meter) + x2 (meter persegi) × Rp.100.000 / 1 (meter persegi) = Rp. 320.000.000
4x  × 1.000.000  + x2 × 100.000 = 320.000.000
x2 + 40x – 3200 =0
x = 80 atau x = -40

Kita mendapatkan 2 solusi, x = 80 meter dan x = -40. Namun tidak mungkin panjang bernilai minus dengan kata lain panjang harus bernilai lebih besar dari 0, sehingga diketahui x = 80 meter. Jadi ukuran lahan yang dapat dibeli adalah 6400 meter.

Persoalan 2

Kabel baja vertikal digunakan untuk menyangga bagian jalan dalam sebuah konstruksi jembatan gantung. Salah satu kabel vertikal yang panjangnya 4,00 m digunakan untuk menyangga beban 20,0 ton. Akibat beban tersebut, kabel baja bertambah panjang 20,0 cm. Jika beban yang sama disangga oleh kabel baja jenis yang sama dengan panjang 8,00 m. Berapa besar pertambahan panjangnya?

Penyelesaian 2
            
            Need
o      Besar pertambahan panjang untuk kabel 8,00 meter jika diberi beban
Know
o       Jika kabel dengan panjang 4,00 meter diberi beban 20,0 ton maka kabel tersebut akan bertambahan panjang 20,0 cm
How
o       Karena beban yang diberikan kepada dua kabel yang berbeda adalah sama, maka kita bisa melihat hubungannya melalui pendekatan perbandingan. Jika dua tali yang salah satunya lebih panjang dari lainnya diberi beban yang sama, maka tali yang lebih panjang akan memiliki pertambahan panjang yang lebih besar dari yang lainnya.
 Solve
o       Misalkan L adalah panjang tali dan X adalah pertambahan panjang tali. Melalui argumen di bagian “How” kita dapat menyataknnya melalui persamaan:

L1 / L2 = X1 / X2
4 m / 8 m  = 20 cm / X2
X2      = 40 cm

Sehingga dapat diketahui bahwa secara teori pertambahan panjang untuk kabel yang 8 m adalah 40 cm.

Persoalan 3

Berapa jumlah kios cukur rambut pria (barbershop) di kota Bandung (jumlah penduduk sekitar 2,5 juta jiwa)?

Penyelesaian 3

                Need    
o     Jumlah kios cukur rambut pria di Bandung

Know
o       Jumlah penduduk Bandung adalah sekitar 2,5 juta jiwa dengan perbandingan jumlah pria dan wanita adalah sekitar 1:1. Asumsikan setiap kios memiliki 2 pekerja yang masing-masing dapat mencukur rambut pria selama 30 menit untuk satu orang pelanggan  mulai dari jam 9.00 sampai jam 17.00. Biasanya pria mencukur rambut 1 kali dalam sebulan dan tidak pernah terjadi seseorang tidak menemukan satupun kios yang penuh.
How
o       Karena tidak pernah seseorang kesulitan mencari kios, maka kita anggap kios dapat menganggap bahwa kios selalu penuh.

1,25 juta pria mencukur rambut dalam setahun sebanyak

           1,25 juta pria x 12 kali cukur / (1 pria x 1 tahun) = 15 juta kali cukur pertahun

1 pekerja dapat mencukur dalam satu hari sebanyak

            8 jam x 60 menit / jam x 1 cukur / 30 menit = 16 cukur perhari

Melalui asumsi di bagian “Know” kita dapat membuat persamaan sebagai berikut

Jumlah kios x 2 pekerja x 16 cukur / 1 hari = 15 juta cukur / 365 hari
Jumlah kios = 1284,24 ≈1284

Jadi, sesuai dengan asumsi awal kita maka diperolah ada 1284 kios di Bandung  


 ***

Jika diperhatikan dalam penyelesaian soal-soal di atas kita akan menemukan bahwa adanya kemungkinan perbedaan secara teori maupun secara nyata di lapangan. Hal ini bergantung berbagai hal terutama pemodelan yang melalui pendekatan ideal dan asumsi yang tidak akurat. Namun dengan dengan menggunakan metode ini cukup menimalisir ketidakakuratan tersebut. Sekian penjelasan singkat mengenai metode Need-Know-How-Solve serta beberapa contoh persoalan serta penyelesaiannya menggunakan metode tersebut. Semoga bermanfaaat.  






Minggu, 18 Oktober 2015

Move

(Tulisan ini adalah respon saya untuk ayah saya yang tiba-tiba mengirim pesan teks: "Kumahak damang?")

Pada sore Kamis kemarin (15/6) seperti biasa ada kajian ifthor di Masjid Salman ITB. Kali ini pemateri membuka dengan mengajukan pertanyaan: “Berita apa yang sering muncul di tv akhir-akhir ini selain kabut asap?” Saya spontan bingung, bukan karena pertanyaannya, tetapi dengan kata ‘selain kabut asap’. Berarti kabut asap termasuk yang sedang panas, ya? Kok saya gak tahu? Tidak lama setelah itu saya baru sadar kalau saya gak ‘melihat’ TV kecuali di kedai-kedai nasi. Yah, you know lah...


Oke, kembali ke pertanyaan tadi. Ada yang unik dari jawaban peserta kajian karena yang ikhwan (laki-laki) kompak menjawab “Bela negara! Wajib militer!” dan akhwat menjawab dengan polosnya “Gerakan shubuh berjamaah!”. Mungkin golongan ikhwan menjawab seperti itu agar keliatan matcho gitu, termasuk saya. Sekilas saja, Gerakan Sholat Shubuh Berjamaah ini adalah gerakan untuk membangkitkan kembali kesadaran kewajiban sholat shubuh bagi tiap muslim yang serentak diadakan di Masjid Salman ITB dan masjid-masjid kampus lain di Indonesia pada 14 Oktober 2015 bertepatan dengan 1 Muharam 1437. Di ITB sendiri grand launching gerakan ini dihadiri oleh Prof. Dr. Ir. Kadarsyah Suryadi (Rektor ITB), Prof. Hermawan K. Dipojono (Ketua Asosiasi Masjid Kampus Indonesia), dan M. Pramaditya Garry H. (Ketua Kabinet KM ITB 2015). Untuk info lebih lanjut bisa disini. Sedangkan untuk “Bela negara” atau "Wajib militer" yang kami teriaki itu saya tidak tahu. Apa itu?

Launching Gerakan Shalat Shubuh Berjamaah
sumber: Gamais ITB

Sekali lagi kembali ke kajian ifthor, Mendengar jawaban dari peserta, pemateri malah mengatakan jawaban kami belum tepat. Beliau lantas menyebut kami generasi muda gak update. Langsung saja beliau menjawab pertanyaannya sediri bahwa berita yang harus kita semua tahu adalah kita memasuki tahun baru hijriah. Ini bukan berarti tentang perayaan tahun baru hijriah, tetapi tentang  hal yang menjadi dasar dari penanggalan tersebut: Hijrah.

Kita semua tahu bahwa hijrah yang dimaksud adalah pindahnya Rasulullah s.a.w. dan para sahabat dari Mekah menuju Madinah.Memang makna  momentum hijrah tidak hanya terbatas itu saja. Saking bermaknanya momentum hijrah, kita tidak bisa mencari nilainya dengan kecepatan dikali massa (salah fokus), tetapi lebih dari itu ia menjadi awal bagi sistem penanggalan Islam. Memang makna hijrah tidak hanya terbatas dari itu saja, tetapi pada postingan kali ini saya ingin membahas mengenai hijrah dalam artian pindah secara fisik, pindah yang sebenarnya.

***



Saya dan kita semua yang sedang pergi ke “kedai kopi-kedai kopi” di tempat yang jauh dari asal ini mungkin bisa kita sebut sedang hijrah dalam artian yang sangat sempit, sangat tidak bisa kita samakan secara mentah-mentah dengan hijrahnya Nabi s.a.w., baik  dalam segi pengorbanan maupun faktor-faktor lainnya. Dari alasan kenapa hijrahnya saja sudah sangat jauh berbeda, apalagi jika diteruskan sampai ke yang lebih detail. Bisa dibilang ini sesuai dengan “kelas”nya masing-masing, karena kita kelasnya sangat jauh dibawah para sahabat, maka “hijrah”nya pun juga jauh tidak berkelas dibanding mereka. Namun dengan segala kekurangan ini, izinkanlah saya menggunakan kata “Hijrah” ini untuk mewakili perjalanan ‘agak’ jauh kita walaupun sekali lagi sangat tidak bisa disanding dengan hijrahnya para Sahabat.


Mungkin cerita paling menarik tentang pengorbanan hijrah kita ini adalah meninggalkan zona nyaman (istilah yang biasanya orang kebanyakan pakai). Kita pasti meninggalkan zona nyaman kita. Bagaimanapun lengkapnya fasilitas yang disediakan kost kita apakah wi-fi yang luarviasa kencang, mandi air panas, tempat colok charger dimana-mana, atau apalah pasti tidak akan lebih nyaman dari rumah, bagaimanpun.  Contohnya saja begini, pertama kita misalkan tingkat kenyamanan rumah bisa disimbolkan dengan angka di selang [0,10]. Nah, jika kamu tinggal di kost dengan tingkat kenyamanan 4, maka pasti kamu tinggal di rumah yang tingkat kenyamanannya lebih dari 4. Begitu juga jika kamu tinggal di hotel berbintang lima yang dijadikan kost, maka pasti kamu tinggal di rumah dengan bintang  tujuh, delapan, atau berapapun yang lebih tinggi. Kenapa? Logikanya ia bisa nge-kost dengan harga dan level segitu pasti punya rumah yang lebih nyaman. Itu secara materi sih, dan gak selamanya benar. Tapi ada satu faktor yang membuatmu ‘harus’ merasa lebih nyaman di rumah tidak lain adalah orang-orang yang bersamamu di rumah.
  
Jika kalian sudah pernah menerima kiriman dari rumah, berarti kita sama dan juga berarti kita sama tahu bagaimana bahagianya. Kalau saya sendiri dikirimi sesuatu yang benar-benar tidak pernah saya nikmati di Bandung dan sangat saya kangenin. Yah kamu tahu rendang kan? Bukannya lebay, tetapi bahagianya luarviasa. Sepeti kita sedang dalam arena “Hunger Game” lalu diberi bantuan dari sponsor. Sering-sering lah.. (Kode keras)

Itu satu contoh bagaimana hanya cuma 'angin-angin'nya saja dari rumah kita sudah merasa merasa bahagia, apalagi benar-benar kembali. Bray, di tengah hiruk pikuk selama hijrah kita ini, di pencarian apakah Ima berlari atau berenang -walaupun akhirnya diketahui Ima hanyalah Sang Pelari-, atau tugas unit yang semakin menjadi, atau problem-problem sesama atau apapun lah kita pasti menerawang apa sih tujuan hijrah kita ini? 

Memang benar bahwa istirahat kita adalah di surga, tapi jika surga tersebut belum terbayang kita bisa kembali mengingat ‘surga’ yang menanti kita di rumah. 

Adakalanya kita harus merasa geer bahwa keluarga kita di rumah sedang sangat-sangat menanti kabar kita. Tanpa harus merasa geer pun hal itu memang terjadi. Nah, kenapa kita tidak manfaatkan kesempatan itu intuk  Saya pribadi saat sebelum berangkat hijrah ini selalu diingatkan agar menghubungi sebisa mungkin. Awalnya saya menghubungi karena ‘peringatan’ tersebut, namun seiring berjalannya waktu ini menjadi kebutuhan. Ya, kebutuhan. Kebutuhan ketika kita lelah, kebutuhan ketika kita bingung, dan kebutuhan karena memang seharusnya kita butuh. 

Tulisan kali ini semoga bisa mengungkapkan bagaimana rindunya saya dengan 'surga' tadi dan bagaimanapun hijrah ini sangat kita butuhkan juga. Jika terasa agak kacau, wajar karena saya bukan orang yang ahli dalam melankolisasi (benar gak, ya?), saya gak mengajak kita tiba-tiba jadi baperan, hanya saja jujur saja jika kita semua merasakan hal yang sama. Jika tidak, paksakan agar 'terasa'. Paksakan agar semangat yang kian memudar ini kembali bersinar. Paksakan agar hijrah kita ini menjadi bermakna. 

Kita tidak hidup sebagai mahasiswa puluhan tahun yang lalu. Jadi, ambil hp atau telepon atau telegram lalu hubungi mereka. Ayo, bro!