"Annelies Mellema," ia mengulurkan tangan padaku, kemudian pada Suurhof.Suara yang keluar dari bibirnya begitu mengesani, tak mungkin dapat kulupakan seumur hidup.- Pramoedya Ananta Toer dalam 'Bumi Manusia'
Buku bersampul kehijau-hijauan itu akhirnya menjadi perhatianku setelah mendekam lama di rak buku kamar kost. Buku itu sebenarnya telah kubeli kira-kira dua tahun yang lalu sebagai syarat untuk bergabung dengan suatu unit kegiatan mahasiswa di ITB (yang pada akhirnya tidak jadi kulanjutkan). Hampir saja terlupakan, namun karena tak ada bahan lain yang bisa kubaca dan tersedia di kamar maka Bumi Manusia-lah yang menjadi santapan. Kira-kira tak sampai sebulan roman ini khatam plus tiap paragraf yang menarik selalu ku jadikan bahan untuk update di linimasa LINE.
Setelah kubaca-baca lagi ternyata paragraf yang menarik dan sempat menjadi penhias linimasa semuanya mengenai Annelies, tokoh fiktif dalam roman Tetralogi Buru, yang mengalami masa-masa indah dan sulit bersama Minke dan Nyai Ontosoroh. Tak bisa dikatakan sederhana jalan cerita dari roman pertama ini, dari perkenalan sang tokoh utama dan tokoh lainnya, lalu bagaimana bertemunya tokoh-tokoh tersebut, sampai muncul konflik yang silih berganti. Semuanya tersusun rapih, indah.
(Postingan pertama yang mengupas buku Kosmos karya Carl Sagan)
Pernahkah merasa eksklusif? Ketika seseorang menganggap hanya dirinyalah yang diberikan ucapan selamat pagi setelah sesaat membuka mata dan diberikan doa indah ketika hendak berpetualang di alam mimpi (tak peduli akhirnya bermimpi atau tidak) agar sang mimpi tak kalah indah dari doa yang terucap. Tentunya. Atau yang paling sederhana jika kita menjadi suatu makanan yang dianggap berbeda dengan yang lainnya karena pada kombinasinya terdapat lebihan telor atau keju, sedangkan yang lain tidak diberikan lebihan tersebut bahkan tidak dimasukkan di antara bahan-bahan lainnya, terlihat lebih rendah stratanya.
Status eksklusif yang dinobatkan secara "sepihak" ini beberapa kali menghambat kita berangkat dari bumi yang kecil ini menuju sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih kokoh, dan jauh lebih luas sehingga kemungkinan bahwa kita, manusia, benar-benar The Only One-nya Kosmos dapat berkurang secara perlahan-lahan. Secara perlahan-lahan kita menyadari bahwa ucapan selamat pagi yang didengungkan kepada kita merupakan ucapan yang kesekian kalinya didengungkan kepada "orang-orang" selain kita, kitalah orang yang mendapatkan urutan kesekian. Sedangkan doa indah di malam hari bisa jadi yang pertama kali dipanjatkan, hanya saja sebagai uji coba untuk mereka yang lebih pantas mendapatkan yang lebih indah. Semua orang, atau setidaknya sebagian, akan memaklumkan bahwa ini hal yang menyakitkan. Oleh karena itu pada beberapa abad sebelum ini, entitas manusia lebih memilih alternatif lain; meninggalkan Kosmos dan meninggalkan pikiran yang sedang berkelana di Kosmos (padahal saat itu manusia telah menyadari penuh posisinya).
Buku yang secara simultan menjadi genre sastra dan genre sains dalam waktu bersamaan ketika membacanya ini memberikan pemahaman bagaimana menjadi warga Kosmos yang baik. Bukan hanya mengembalikan kesadaran bahwa manusia bisa jadi bukanlah entitas yang satu-satunya di Alam Semesta yang selalu mengembang (sapai saat ini), tetapi juga mengembalikan kepercayaan diri kita sebagai bagian dari sesuatu yang besar yang diberikan tugas untuk memahami diri sendiri dan memahami bagian dirinya yang lain, yang lebih besar. Dua hal yang bertentangan, bukan?
Awalnya saya mencoba mengira-ngira isi dari buku ini akan langsung terbang ke galaksi nun jauh disana, atau langsung membahas bagaimana Big Bang kemungkinan terjadi, atau minimal membahas seberapa tua Alam Semeta ini. Pertanyaan-pertanyaan dasar di atas akan langsung dipercikkan di bab pertama, sebuah pembukaan yang elegan untuk pembahasan yang luas, menuju luasnya Kosmos. Namun tak beberapa saat kita langsung ditarik kembali menuju permukaan. Seperti sebuah trailer yang menampakkan bagaimana luas dan gagahnya galaksi terdiri dari miliaran bintang, kemudian trailer singkat tersebut berakhir dan menyisakan kita yang masih duduk di dalam bandara (kebetulan saya membuka buku ini saat pulang libur semester) yang seharusnya memahami hal-hal "sepele" yang jaraknya hanya beberapa meter atau kilometer di hadapan kita. Jangan dulu membahas sesuatu yang berjarak dua juta tahun cahaya dari tempat duduk; seperti galaksi M31.
Bumi kecil kita begitu unik, paling tidak sampai saat ini, karena disanalah ditemukannya kehidupan selain dari "kehidupan" ala bintang-bintang. Sebagian dari miliaran planet tidak memiliki kehidupan, walaupun bahan dasar dari kehidupan yang ada di bumi juga ditemukan di berbagai tempat di Alam Semesta ini, tetapi hanya dengan bebagai "kebetulan" beruntun seperti di bumi lah kita akan merasakan suasana seperti di planet biru ini. Satu bab yang paling berkesan saat di bangku SMA adalah bab tentang Teori Evolusi. Materi pelajaran SMA tak banyak yang benar-benar membuat kita bertanya-tanya (jika tanpa inisiatif guru atau siswa), dan terutama Biologi tak lebih seperti serangkaian kata-kata ilmiah yang tak mewajibkan kita untuk berpikir namun apabila kita dapat menghapalnya dengan baik, maka kita telah dianggap paham akan ilmu ini. Namun sayangnya untuk materi evolusi ini, saya beserta teman-teman di kelas langsung diberikan pemahaman bahwa kita boleh saja tidak meyakini cabang ilmu ini namun saat ini cobalah untuk menerimanya, sebuah pembukaan yang begitu pesimis.
Sampul buku The Origin of Species
Sumber: http://www.wikiwand.com/
Darwin, evolusi, dan The Origin of Species menjadi sesuatu yang tabu untuk diperbincangkan, kalimat "untuk saat ini terima saja" seolah selalu dilontarkan bahkan di buku teks pelajaran. Wajar saja penolakan akan usulan ini mudah terjadi, bahkan untuk seseorang yang tidak memiiki argumen apapun sebelumnya yang dapat membantah teori ini. Namun untuk membahas Alam Semesta kita tidak dapat melewatkan bagian penting ini, bagian yang menjadikan debu-debu bintang dapat memahami bagian besar dirinya. Di bagian inilah menjadi titik krusial apakah zat-zat bintang yang berserakan dapat merenungkan asal-usulnya yang tak dapat dilakukan oleh bintang-bintang sekalipun. Dan suatu saat terjadilah manusia. Namun bagaimana sebelum kejadian itu? Carl Sagan di bab Satu Suara dalam Fuga Kosmik menjelaskan dengan begitu indah hikayat kehidupan galaksi beserta kemungkinan-kemungkinannya.
Ada baiknya Satu Suara dalam Fuga Kosmik menjadi satu bab khusus pada buku teks SMA sebelum Teori Evolusi Darwin. Kisah armada perang berisikan samurai-samurai Heike di Jepang yang diluluh-lantakan oleh klan Genji dan nelayan yang mempercayai bahwa para samurai tersebut masih bersemayam di lautan dalam bentuk kepiting menjadi kisah pembuka sebelum bertemu dengan DNA, mutasi, kromosom, dan lainnya. Dampak dari Hikayat Heike yang terjadi pada nelayan memberikan gambaran kecil bagaimana proses evolusi berlangsung, bahkan oleh ketidaksadaran manusia yang mendorong proses evolusi tersebut. Dahulu, apabila nelayan menemukan kepiting yang memiliki pola unik seperti wajah samurai, kepiting ini tidak akan dimakan dan akan dikembalikan ke lautan karena mengingatkan nelayan akan kisah menyedihkan pada perang Danno-ura.
Kepiting Heike
Sumber: http://www.japanpowered.com/
Selama ratusan tahun kepiting yang dimakan di daerah sana hanyalah kepiting dengan pola-pola dan tanda selain pola samurai, sedangkan yang memiliki tanda unik ini dibiarkan hidup. Akibatnya misalkan saya adalah seekor kepiting dengan pola samurai, saya dapat menjamin keberlangsungan hidup saya sehingga peluang saya memiliki keturunan dengan pola yang mirip (karena pewarisan sifat) juga lebih besar dan juga tentunya dapat menghasilkan keturunan dengan spesifikasi tersebut lebih banyak. Untuk generasi pertama mungkin tidak akan begitu kelihatan dominasi saya, kerabat dekat, beserta keturunan saya. Mungkin polanya jika dilihat secara rata-rata hanya menggambarkan bentuk tak jelas yang seolah-olah hampir menuju bentuk wajah. Namun karena proses diskualifikasi yang dilakukan beruntun dari generasi ke generasi, menyebabkan bentuk kepiting yang benar-benar dominan hanya tinggal bentuk manusia, bahkan jika dilanjutkan sampai generasi berikutnya nelayan akan lupa dengan rasa kepiting karena semuanya mirip samurai. Proses ini disebut sebagai seleksi alam. Pada kasus kepiting diatas, terlihat bahwa kepiting tidak memiliki keinginan untuk diseleksi, bahkan sang penyeleksi (nelayan) juga tidak menyangka bahwa mereka sedang mendorong suatu proses yang berdampak signifikan pada alam. Siapa yang akan menyangka Hikayat Heike akan menjadi pemicu proses seleksi alam, luar biasa.
Berbicara Alam Semesta tidak mungkin melewatkan bahasan tentang bagaimana sang juru bicara tercipta. Pada proses seleksi kepiting Heike bukan suatu yang sulit untuk diterima kenyataannya, begitu juga tentang bagaimana alam semesta terbentuk, bagaimana awal kehidupan, dan pertnyaan-pertanyaan bagaimana lainnya. Paling tidak pertanyaan tersebut lebih mudah diterima daripada tentang bagaimana manusia tercipta dan akhirnya manusia ada. Masih terdapat banyak sekali alternatif, dari berbagai pendekatan. Argumen saya dalam hal ini sebagai seorang Muslim yang telah dengan dengan jelas tercantum di dalam agama tentang kejadian manusia tak mungkin dapat dipungkiri. Akan tetapi apakah dengan mengecualikan manusia pada proses evolusi (atau kembali meng-eksklusif-kan proses evolusi manusia dibanding makhluk lain) serta merta meruntuhkan teori evolusi yang dalam hal ini mengambil pendekatan ilmiah dan tentunya proses berpikir secara dramatis dalam berpuluh tahun? Dan juga sebaliknya. Apakah dengan menerima teori evolusi serta merta (juga) mengurangi pengakuan terhadap kekuasaan Tuhan? Postingan ini akan bersambung dengan pembahasan Kosmos (Carl Sagan) lebih lanjut. Nantikan!
Jika kamu datang mengunjungi blog ini karena judul postingan ini terasa akrab bagimu, berarti kita sama. Valar Morghulis! Tepat sekali, di postingan pertama saya setelah vakum beberapa bulan ini kita akan membahas suatu film seri yang tidak saya anjurkan untuk menonton, Game of Thrones. Sekali lagi, tidak saya anjurkan untuk menonton. Alasannya akan menyusul di bawah, insyaAllah. Oh ya, sebelum lebih jauh saya ingin berterimakasih kepada Handik, Alvin, Siddiq, dan Adam yang telah secara rutin dan berkala menanyakan "Gak nge-blog lagi, Bal?". Bro, laporan PRD jauh lebih mendesak agar saya merangkai kata demi kata, tapi tak apalah kemampuan satu ini dilimpahkan ke laporan demi laporan. By the way, PRD saya indeksnya A, yah! (source: ol.akademik.itb.ac.id)
source: gameoflaughs.com
Akibat saya seringkali memuntahkan cerita GoT (Game of Thrones) ini kepada rekan-rekan saya secara langsung ataupun di group chat, padahal banyak dari mereka yang belum nonton film ini, yang ada malah ceramah, komunikasi satu arah. Sehingga saya pikir baiknya apa-apa tersebut saya tuangan ke blog ini, itung-itung nambahin postingan. Baik, saya tidak akan mereview film seri yang kebanyakan serinya mendapat rating 10/10 di IMDb dan 100% di Rotten Tomatoes ini, karena sudah banyak sekali yang mereview sampai ke detail-detailnya. Melalui basis ceritanya, novel A Song of Ice and Fire, para expert dapat mengupas kejadian demi kejadian sampai berabad-abad yang lalu atau dapat mengetahui bagaimana nasab keturunan seorang sampai ke leluhur-leluhurnya. Sedangkan saya yang belum membaca novel rasanya sulit diterima review per seasonnya. Tetapi, kali ini, di postingan ini, saya akan mencoba mencari karakter yang bisa jadi favorite untuk saya. Sebisa mungkin kita menghindari spoiler, sebisa mungkin. Menarik.
***
Berawal dari matinya Jon Arryn, menyebabkan King Robert Baratheon menginginkan Lord Eddard Stark menjadi Hand of The King-nya. Dari sana, Ned Stark mulai menunjukkan tajinya sebagai orang yang baik dan pantas menjadi protagonis utama di film seri ini. "Winter is coming" yang merupakan kalimat milik keluarga Stark memang menjadikan mereka seolah selalu siap. Bagaimana ia dengan berani menentang keinginan King Robert yang ia rasa merupakan suatu kesalahan atau bagaimana ia berani mengungkap sesuatu yang sangat penting terhadap kelangsungan Seven Kingdom, semua orang terutama saya pasti sepakat bahwa dia jauh lebih keren dari Stark yang satu lagi, yang suka main robot. This is my hero!
source: picturequotes.com
Oh, dear. Don't say it again. Aturan pertama menonton film ini adalah jangan mengatakan "This is my hero!". Karena kamu tidak sedang menonton film-film dari Marvel yang sebenarnya, lagi-lagi, Stark itu bisa saja meledakkan Captain dan Winter Soldier kapanpun ia mau. Kehilangan tangan? Aaaah, itu juga hanya tangan tambahan yang seharusnya dia sudah tangan bertangan. Di GoT kita tidak hanya akan melihat bagaimana tangan lepas dari tubuh, tapi juga -tentunya- kepala lepas dari leher, bahkan anu lepas dari badan. Seolah-olah tidak ada aturan karakter utama tidak boleh mati. Ini yang menarik. Saya seakan terlepas dari aturan bahwa semua akan baik-baik saja.
Selain dari "karakter utama" bisa mati (saya tidak mengatakan Ned bakal meninggal, ya! Bahaya spoiler.), alasan lain kenapa kita tidak bisa mengkalim seseorang menjadi hero-nya kita adalah semua bisa berubah. Contohnya saja Arya Stark, salah satu tokoh favorit saya setelah "beliau" mati, di episode-episode awal sangat gemesin tapi saking kesini ia semakin assasin. Jika kamu tabah menonton, kita akan menemukan bagaimana bagaimana petualangannya yang benar-benar keren. Bahkan bisa jadi dibuat film khusus yang mana menceritakan Arya saja, itu saja sudah luarbiasa. Dari petualangannya kita akan menemukan salam "Valar morghulis" (All men must die) yang menjadi aturan dasar dari film ini. Dia benar-benar menjadi favorit saya, tapi kita harus ingat dia bisa saja mati. Bisa saja.
Ada lagi sosok Jaime Lannister yang di episode-episode awal bukanlah sosok yang gemesin, ya iya lah. Maksudnya bukan tipe tokoh yang bisa jadi calon favorit, dari insesnya atau dari scene ia menyerang Lord Stark. Lannister oh Lannister. Every body hates your house. Tetapi siapa sangka selama ia menjadi sandera, malah mengubah karakter menjadi such of a love person terutama kepada Brienne. Ada spekulasi menarik dari fan bahwa Jaime selalu menjadi baik jika jauh dari adik kesayangannya, Cersei Lannister. Aaah, kita tunggu saja bagaimana reaksinya setelah "BURN THEM ALL!!!!".
Sementara terjadi perang lima kerajaan, di luar Westeros ada sosok yang benar-benar menarik, Daenerys Targaryen, first of her name, Queen of the Andals and The First Maen, The Unburnt, Khaleesi of the Great Grass Sea, The ................... cukup. Oke, Dany merupakan anak dari Aerys II Targeryen "The Mad King" yang selamat setelah terjadi kudeta oleh Robert Baratheon bersama kakaknya. Setelah lama di pengasingan, ia dan kakaknya mulai menyusun rencan untuk "pulang" dan merebut kembali The Iron Throne. Langkah pertama Viserys di episode pertama adalah menikahkan Dany dengan Khal Drogo pemimpin dari Dothraki yang terkenal dengan kemampuan perangnya yang luarbiasa. Lagi-lagi, Khal Drogo di episode-episode awal meyakinkan kita dia tidak akan terkalahkan, sangat tangguh. Tapi, yah begitu. Valar Morghulis. Memulai segalanya dari awal untuk pulang, Dany berusaha meyakinkan bahwa memang ia yang pantas menduduki Seven Kingdom. Dan muncullah hal-hal luar biasa disini. Kau tahu apa? A cute baby dragon!!
source: tyrionlannister.net
Baik, saya rasa terlalu panjang jika membahas satu persatu karakter di GoT ini. Tapi, tunggu! Lihat gambar di atas, perhatikan baik-baik. Seseorang yang punya banyak sekali makna di senyumnya, selalu mengundang teror. Dialah Lord Petyr "Littlefinger" Baelish, kalau boleh dibilang merupakan the biggest problem di tiap episode bahkan dari episode 1, Winter is coming. Seandainya dia tidak memiliki usaha rumah bordir, maka setengah dari keseluruhan adegan tidak enak di GoT juga akan hilang. Oh ya, perlu disinggung bahwa disini selain pembunuhan, mutilasi, minuman keras, dll, juga terdapat adegan-adegan you know lah. Kalau boleh saya beropini bahwa tanpapun scene-scene tersebut tidak akan mengubah jalan cerita. Hati-hati, gaes!
Memang masalah apa sih yang dibuat Baelish? Semuanya! Sangat-sangat tidak etis saya menyebutkannya karena itu adalah spoiler terbesar. Bahkan bagi penikmat buku A Song of Ice and Fire tidak akan menemukan jawabannya jika tidak menonton tv show. Baelish sangat perfect menjadi aktor intelektual di balik keseruan GoT. Bisa dibilang dialah yang membawa pikiran bahwa tidak ada yang bisa kita percayai di GoT, semua orang bisa jadi adalah orang yang licik. Menarik, seolah-olah dia mengingatkan orang di sekitarnya untuk tidak mempercayai dia sendiri.
Jika benar-benar tidak ada tokoh baik murni (setidaknya di season 6), lebih mudah kita mengklaim semuanya jahat. Sebentar, bagaimana dengan Jon Snow? Aaah, "You know nothing, Jon Snow". Bagaimana dengan Tyrion Lannister? Ada kutipan menarik yang mengatakan bahwa ada dua tipe orang, pertama adalah yang menyukai Tyrion dan yang kedua adalah yang nonton GoT. Bagaimana dengan Brienne? Bagaimana dengan Bran? Bagaimana dengan Sam? Cukup, cukup. Saya tarik ucapan saya tadi, ternyata masih ada tokoh yang baik disini. Tetapi bukan berarti dia adalah karakter utama yang ga boleh mati ya! Semua tergantung Goerge R. R. Martin dan D & D yang menjadi pembuat cerita.
Untuk saat ini, ayolah kita beralih jangan ke tokoh yang baik-baik saja, toh belum tentu ia protagonis. Berbeda dengan film kebanyakan, bisa dikatakan tokoh yang muncul keren di awal adalah tokoh yang ndak boleh hilang sampai akhir, lah ini Ned Stark ga sampai season 2. Eh. Jadi, dari sekian banyak karakter saya lebih menfavorikan Jaime Lannister, The Kingslayer (sekalipun dia bisa mati). Dengan adanya sifat kadang baik kadang buruk, sepertinya ia akan memegang peran penting di season 7. Akankah ia menjadi Kingslayer untuk kedua kalinya? Menarik. Sekian dulu, mungkin lain kali kita lanjut. Ini hanyalah pengantar, winter is coming.
Valar Morghulis!
"It is the first romantic ballad about incest in Coldplay's career."Liam Neeson