Minggu, 24 Juli 2016

Valar Morghulis

Jika kamu datang mengunjungi blog ini karena judul postingan ini terasa akrab bagimu, berarti kita sama. Valar Morghulis! Tepat sekali, di postingan pertama saya setelah vakum beberapa bulan ini kita akan membahas suatu film seri yang tidak saya anjurkan untuk menonton, Game of Thrones. Sekali lagi, tidak saya anjurkan untuk menonton. Alasannya akan menyusul di bawah, insyaAllah. Oh ya, sebelum lebih jauh saya ingin berterimakasih kepada Handik, Alvin, Siddiq, dan Adam yang telah secara rutin dan berkala menanyakan "Gak nge-blog lagi, Bal?". Bro, laporan PRD jauh lebih mendesak agar saya merangkai kata demi kata, tapi tak apalah kemampuan satu ini dilimpahkan ke laporan demi laporan. By the way, PRD saya indeksnya A, yah! (source: ol.akademik.itb.ac.id)

source: gameoflaughs.com
Akibat saya seringkali memuntahkan cerita GoT (Game of Thrones) ini kepada rekan-rekan saya secara langsung ataupun di group chat, padahal banyak dari mereka yang belum nonton film ini, yang ada malah ceramah, komunikasi satu arah. Sehingga saya pikir baiknya apa-apa tersebut saya tuangan ke blog ini, itung-itung nambahin postingan. Baik, saya tidak akan mereview film seri yang kebanyakan serinya mendapat rating 10/10 di IMDb dan 100% di Rotten Tomatoes ini, karena sudah banyak sekali yang mereview sampai ke detail-detailnya. Melalui basis ceritanya, novel A Song of Ice and Fire, para expert dapat mengupas kejadian demi kejadian sampai berabad-abad yang lalu atau dapat mengetahui bagaimana nasab keturunan seorang sampai ke leluhur-leluhurnya. Sedangkan saya yang belum membaca novel rasanya sulit diterima review per seasonnya. Tetapi, kali ini, di postingan ini, saya akan mencoba mencari karakter yang bisa jadi favorite untuk saya. Sebisa mungkin kita menghindari spoiler, sebisa mungkin. Menarik. 

***

Berawal dari matinya Jon Arryn, menyebabkan King Robert Baratheon menginginkan Lord Eddard Stark menjadi Hand of The King-nya. Dari sana, Ned Stark mulai menunjukkan tajinya sebagai orang yang baik dan pantas menjadi protagonis utama di film seri ini. "Winter is coming" yang merupakan kalimat milik keluarga Stark memang menjadikan mereka seolah selalu siap. Bagaimana ia dengan berani menentang keinginan King Robert yang ia rasa merupakan suatu kesalahan atau  bagaimana ia berani mengungkap sesuatu yang sangat penting terhadap kelangsungan Seven Kingdom, semua orang terutama saya pasti sepakat bahwa dia jauh lebih keren dari Stark yang satu lagi, yang suka main robot. This is my hero! 

source: picturequotes.com

Oh, dear. Don't say it again. Aturan pertama menonton film ini adalah jangan mengatakan "This is my hero!". Karena kamu tidak sedang menonton film-film dari Marvel yang sebenarnya, lagi-lagi, Stark itu bisa saja meledakkan Captain dan Winter Soldier kapanpun ia mau. Kehilangan tangan? Aaaah, itu juga hanya tangan tambahan yang seharusnya dia sudah tangan bertangan. Di GoT kita tidak hanya akan melihat bagaimana tangan lepas dari tubuh, tapi juga -tentunya- kepala lepas dari leher, bahkan anu lepas dari badan. Seolah-olah tidak ada aturan karakter utama tidak boleh mati. Ini yang menarik. Saya seakan terlepas dari aturan bahwa semua akan baik-baik saja. 
Selain dari "karakter utama" bisa mati (saya tidak mengatakan Ned bakal meninggal, ya! Bahaya spoiler.), alasan lain kenapa kita tidak bisa mengkalim seseorang menjadi hero-nya kita adalah semua bisa berubah. Contohnya saja Arya Stark, salah satu tokoh favorit saya setelah "beliau" mati, di episode-episode awal sangat gemesin tapi saking kesini ia semakin assasin. Jika kamu tabah menonton, kita akan menemukan bagaimana bagaimana petualangannya yang benar-benar keren. Bahkan bisa jadi dibuat film khusus yang mana menceritakan Arya saja, itu saja sudah luarbiasa. Dari petualangannya kita akan menemukan salam "Valar morghulis" (All men must die) yang menjadi aturan dasar dari film ini. Dia benar-benar menjadi favorit saya, tapi kita harus ingat dia bisa saja mati. Bisa saja. 

Ada lagi sosok Jaime Lannister yang di episode-episode awal bukanlah sosok yang gemesin, ya iya lah. Maksudnya bukan tipe tokoh yang bisa jadi calon favorit, dari insesnya atau dari scene ia menyerang Lord Stark. Lannister oh Lannister. Every body hates your house. Tetapi siapa sangka selama ia menjadi sandera, malah mengubah karakter menjadi such of a love person terutama kepada Brienne. Ada spekulasi menarik dari fan bahwa Jaime selalu menjadi baik jika jauh dari adik kesayangannya, Cersei Lannister. Aaah, kita tunggu saja bagaimana reaksinya setelah "BURN THEM ALL!!!!". 

Sementara terjadi perang lima kerajaan, di luar Westeros ada sosok yang benar-benar menarik, Daenerys Targaryen, first of her name, Queen of the Andals and The First Maen, The Unburnt, Khaleesi of the Great Grass Sea, The ................... cukup. Oke, Dany merupakan anak dari Aerys II Targeryen "The Mad King" yang selamat setelah terjadi kudeta oleh Robert Baratheon bersama kakaknya. Setelah lama di pengasingan, ia dan kakaknya mulai menyusun rencan untuk "pulang" dan merebut kembali The Iron Throne. Langkah pertama Viserys di episode pertama adalah menikahkan Dany dengan Khal Drogo pemimpin dari Dothraki yang terkenal dengan kemampuan perangnya yang luarbiasa. Lagi-lagi, Khal Drogo di episode-episode awal meyakinkan kita dia tidak akan terkalahkan, sangat tangguh. Tapi, yah begitu. Valar Morghulis. Memulai segalanya dari awal untuk pulang, Dany berusaha meyakinkan bahwa memang ia yang pantas menduduki Seven Kingdom. Dan muncullah hal-hal luar biasa disini. Kau tahu apa? A cute baby dragon!!

source: tyrionlannister.net
 
Baik, saya rasa terlalu panjang jika membahas satu persatu karakter di GoT ini. Tapi, tunggu! Lihat gambar di atas, perhatikan baik-baik. Seseorang yang punya banyak sekali makna di senyumnya, selalu mengundang teror. Dialah Lord Petyr "Littlefinger" Baelish, kalau boleh dibilang merupakan the biggest problem di tiap episode bahkan dari episode 1, Winter is coming. Seandainya dia tidak memiliki usaha rumah bordir, maka setengah dari keseluruhan adegan tidak enak di GoT juga akan hilang. Oh ya, perlu disinggung bahwa disini selain pembunuhan, mutilasi, minuman keras, dll, juga terdapat adegan-adegan you know lah. Kalau boleh saya beropini bahwa tanpapun scene-scene tersebut tidak akan mengubah jalan cerita. Hati-hati, gaes! 

Memang masalah apa sih yang dibuat Baelish? Semuanya! Sangat-sangat tidak etis saya menyebutkannya karena itu adalah spoiler terbesar. Bahkan bagi penikmat buku A Song of Ice and Fire tidak akan menemukan jawabannya jika tidak menonton tv show. Baelish sangat perfect menjadi aktor intelektual di balik keseruan GoT. Bisa dibilang dialah yang membawa pikiran bahwa tidak ada yang bisa kita percayai di GoT, semua orang bisa jadi adalah orang yang licik. Menarik, seolah-olah dia mengingatkan orang di sekitarnya untuk tidak mempercayai dia sendiri. 
 


Jika benar-benar tidak ada tokoh baik murni (setidaknya di season 6), lebih mudah kita mengklaim semuanya jahat. Sebentar, bagaimana dengan Jon Snow? Aaah, "You know nothing, Jon Snow". Bagaimana dengan Tyrion Lannister? Ada kutipan menarik yang mengatakan bahwa ada dua tipe orang, pertama adalah yang menyukai Tyrion dan yang kedua adalah yang nonton GoT. Bagaimana dengan Brienne? Bagaimana dengan Bran? Bagaimana dengan Sam? Cukup, cukup. Saya tarik ucapan saya tadi, ternyata masih ada tokoh yang baik disini. Tetapi bukan berarti dia adalah karakter utama yang ga boleh mati ya! Semua tergantung Goerge R. R. Martin dan D & D yang menjadi pembuat cerita. 
 
Untuk saat ini, ayolah kita beralih jangan ke tokoh yang baik-baik saja, toh belum tentu ia protagonis. Berbeda dengan film kebanyakan, bisa dikatakan tokoh yang muncul keren di awal adalah tokoh yang ndak boleh hilang sampai akhir, lah ini Ned Stark ga sampai season 2. Eh. Jadi, dari sekian banyak karakter saya lebih menfavorikan Jaime Lannister, The Kingslayer (sekalipun dia bisa mati). Dengan adanya sifat kadang baik kadang buruk, sepertinya ia akan memegang peran penting di season 7. Akankah ia menjadi Kingslayer untuk kedua kalinya? Menarik. Sekian dulu, mungkin lain kali kita lanjut. Ini hanyalah pengantar, winter is coming

Valar Morghulis!

 
"It is the first romantic ballad about incest in Coldplay's career."Liam Neeson



Minggu, 17 Januari 2016

The Power of Your Click

Selamat datang di Kota "Punten"! Semoga lidah ini tidak kaku menyebut "punten" saat berjalan di depan orang lalu dibalas "mangga". Sedangkan di tempat lain kata "maaf" disebut berlebihan dan kata "afwan" disebut tidak cinta tanah air. Sungguh, kami cinta tanah air.

Dalam perjalanan menuju Kota Punten, saya singgah di Ibukota. Menjadi pikiran apakah saya secara dramatis akan menemui jodoh disini. Maaf, kita ulangi.

Dalam perjalan menuju Kota Punten, saya singgah di Ibukota. Menjadi pikiran apakah saya secara dramatis akan menemui kejadian yang sedang ramai dibincangkan di sana. Seperti kata Bang Napi bahwa kejahatan bukan karena ada niat pelaku tetapi juga karena ada kesempatan "Waspadalah! Waspadalah!". Bukan berharap pastinya, tetapi cuma sadar kalau saya mungkin sekali bertemu dengan hal yang mengerikan itu. Mengerikan seharusnya, tetapi di Indonesia malah dijadikan lelucon. Atau mungkin kita memang terbiasa menganggap semua lelucon?

Tentu saja saya tidak akan membahas siapa pelakunya, apa motofnya, kenapa di Sarinah, dan lain sebagainya, biarlah Pak Polisi yang terhormat (dan yang sedang hitz juga) mengurusnya. Sadarlah, data dan pengetahuan kita yang sangat sedikit ini jangan terlalu banyak berspekulasi. Walaupun begitu masih banyak juga teman-teman yang hebat ikut berdebat mengenai hal ini. Tak heran ratusan spekulasi muncul, dari yang (masih saja) menganggap itu lelucon sampai yang menganggap serius.

Secara garis besar, ada dua ledakan kemaren. Pertama jelas adalah ledakan di Sarinah beberapa kali tersebut yang disusul dengan baku tembak serta datangnya kerumunan penonton (eh). Cukup seru. Cukup mendebarkan. Pantas saja orang-orang disana enggan beranjak dan melewatkan adegan demi adegan. Alih-alih bersembunyi, penonton malah asyik berdiri di pinggiran tanpa tameng dan baju anti-peluru, jauh berbeda dengan Pak Polisi yang bertamengkan mobil. Adalagi penjual sate dan penjual-penjual lainnya yang tetap melaksanakan tugasnya walaupun suasana cukup mencekam. Mencekam? Mungkin saya yang terlalu lebay menyebutkan kata "mencekam" diatas, padahal mungkin faktanya adem ayem saja. Aaah kita tidak tahu.

Nah, Semua komponen diatas membuat suatu ledakan baru di berbagai media lainnya. Ini baru benar-benar meledak. Saya termasuk yang yang tidak tahu melalui TV, tetapi dari hashtag. Iya, hashtag. Dari hashtag baru saya mulai mencari ke berbagai media. Selain broadcast mengenai hashtag tersebut, ternyata kali ini ada kontra-nya. Maksudnya ada sebagian yang menganggap bahwa ikut-ikutan hashtag malah memberi banyak dampak negatif dari segi perekonomian. Setelah kontra itu, adalagi muncul kontranya kontra hashtag. Jelas tujuannya adalah membantah tuduhan dampak negatif tersebut. Efeknya luarbiasa bukan?

Saya sendiri bagaimanapun bukan bagian dari yang buat hashtag maupun yang kontra hashtag. Terlalu banyak kejadian dan tempat yang seharusnya kita buat #PrayFor......... Saya merasa tidak cukup adil ketika ikut-ikutan hashtag padahal jauh disana ada negara yang ledakan bom layaknya pesta tahun baru, tapi dengan tahun barunya bisa tiap minggu bahkan tiap hari. Bagaimana juga dengan negara yang tidak ada yang ingin meneror karena mereka telah terteror dengan kurang makan, air, pendidikan, dan sebagainya. Belum lagi pribadi-pribadi yang banyak sekali perlu dikasihani, belum dapt pekerjaan, belum bisa bayar hutang, belum dapat jodoh, gagal jadi sesuatu, nilai jelek, aaaah terlalu banyak. Pada tanggal terjadi bom itu sendiri sangat banyak kejadian yang bisa dijadikan hashtag (salah satunya adalah meninggalnya Alan Rickman). Masih banyak lagi kan? Ya tidak perlu disebutin.

Bayangkan jika tiap kejadian, tiap becana, tiap teror yang terjadi lalu saya buat status. Hmm.. Itu bukan tipe saya banyak buat status. Apalagi ganti foto profil, sangat jarang. Ini bukan masalah peduli atau tidak peduli, bukan masalah support atau tidak support, juga bukan masalah mendukung siapa atau siapa. Saya hanya khawatir berlaku tidak adil, khawatir jika suatu kejadian yng kita "share" benar-benar semacam lelucon, khawatir jika saya ikut-ikutan "share" malah menambah pelik masalah. Bukan tugas saya menganalisa kejadian, bukan juga tugas saya menghebohkan suatu kejadian. Ini bukan siapa yang salah dan siapa yang benar, tapi mungkin sejenak sebelum 'share' kita bertanya "Haruskah?".

Terakhir, saya ingin mengutip status saya di salah satu media sosial

Banyak sekali hal-hal yang belum dipikirkan terjadi setelah kita menekan tombol share atau like (yang otomatis juga menjadi tombol share) terhadap suatu post. Mungkin harusnya ada pertanyaan di dialog box: "Apakah anda yakin untuk membagikan ini (dan tidak menimbulkan masalah)?"



Selamat datang di Kota "Punten"! Semoga lidah ini tidak kaku menyebut "punten" saat ada yang tersinggung dengan postingan ini, ada baiknya memberi kritikan dan saya ucapkan "mangga". Sedangkan di tempat lain kata "maaf" disebut berlebihan dan kata "afwan" disebut tidak cinta tanah air. Sungguh, kami cinta tanah air.




Iqbal Rahmadhan
yang baru sampai di Kota Punten

Sabtu, 14 November 2015

Load Game

"Bal, sepertinya saya salah pilih jurusan"

Aah.. Mendekati akhir semester ganjil pertama ini yang kalimat di atas atau yang senada semakin sering terdengar. Mulai dari teman yang duduk di kursi sebelah ataupun yang duduk di kampus sebelah. Ada yang ngomong sambil ketawa, ada juga yang ngomong dengan penuh kesungguhan di dalam hati. Bagaimanapun ada satu yang ditangkap, "saya masih punya kesempatan".

Sebelum melangkah lebih jauh, penulis ingin menegaskan bahwa tulisan kali ini bukan berarti saya tidak setuju dengan orang yang memilih untuk berjuang lagi demi masuk perguruan tinggi (lagi). Setiap kali sampai kalimat di atas  kepada saya, saya menjawab: "masih ada waktu untuk berpikir, bro". Yah sepertinya itulah jawaban yang lumayan tepat karena tidak ada hak saya untuk mendukung apalagi melarang, karena kita dalam kondisi yang berbeda. Berbeda.

Bisa saja kondisi menjadi terbalik jika penulis tidak dimudahkan oleh Allah sampai di kampus ini, bisa saja. Namun saya mencoba mengambil langkah yang cukup aman ketika dahulu, yakni tidak terlalu menginginkan "kedai kopinya" tetapi tentang "kopi" yang bisa dijual di banyak kedai. Tetapi sekali lagi, kondisi bisa saja terbalik. Oleh karena itu, "masih ada waktu untuk berpikir, bro" saya pilih sebagai respon saya terhadap kalimat paling atas.

sumber: noufaldiary.blogspot.com
Mungkin ada yang mulai berpikiran kalau saya bakal membahas seperti yang kembali marak di media sosial: "TIPS SUKSES MEMILIH JURUSAN", "5 CARA JITU LOLOS SNMPTN", ataupun "CARA LOLOS SBMPTN DENGAN TUTUP MATA" (yang terakhir itu tidak ada). Bukan. Kali ini kita mencoba mengulasnya dengan kata Load Game. -"wah, udah lama gak posting apa-apa, Iqbal ternyata main game"-. Eits..


  ***

Seringnya bermain PS2 -walaupun sudah ada PS3, PS4, dst- ketika masih di Sungai Penuh membuat saya sering berimajinasi tentang kata load game. Jika bermain suatu game bergenre sport dan kita kalah yang menyebabkan kita bakal tidak lolos ke tahap selanjutnya, kita bisa melakukan cara sederhana:

1. Tekan tombol power (setelah mati maka mesin mesin akan hidup lagi)
2. Lalu load saat sebelum kekalahan penting tadi
3. Usaha semaksimal mungkin

Pecundang memang, tapi siapa yang dirugikan? Kalaupun anda bermain dengan menyewa, itu tidak akan membuat abang PS-nya marah. Apalagi di game bergenre adventure (misal: GTA), yang harus anda perhatikan hanyalah JANGAN LUPA SAVE GAME. Dengan hanya pergi ke save house dan melakukan save game maka Anda sudah seperti tak-terkalahkan (asumsikan kita tidak mengenal cheat. Apa itu cheat?), walaupun sebenarnya sudah gagal berkali-kali. Sederhana. 

Pola pikir ini terus terbentuk dengan prinsip "If you lose, just load it!". Selain dari PS2 prinsip ini juga seakan menunjukkan tajinya di salah satu film yang dibintangi Tom Cruise, Edge of Tomorrow. Di film ini mungkin lebih ekstrim, aturannya adalah "You get injured on the field, you better make sure you die".

Hasil screenshoot langsung dari film 'Edge of Tomorrow'
Dua kasus ini (game PS2 dan film Edge Of Tomorrow) punya satu ide yang sama: Load Game dengan cara yang berbeda. Ide ini juga yang sempat terlintas ketika masa-masa sulit (baca: peralihan dari tidak lolos SNMPTN ke persiapan SBMPTN). Seandainya kita benar-benar bisa load game bisa saja saya tidak perlu susah-susah untuk tes dan menikmati libur panjang, tinggal cari saja peluang yang lebih besar. Jika gagal lagi? Load game lagi.

Untung saja saya masih waras dan tidak memikirkan ini berlarut-larut. Bagaimanapun SNMPTN hanya sekali, tidak mungkin memberikan kesempatan kedua. Tetapi SBMPTN dan ujian-ujian mandiri perguruan tinggi memberikan kesempatan itu, kesempatan kedua. Nah, karena kesempatan kedua itulah saya ingin menulis postingan kali ini.

Banyak penyebab yang mungkin membuat rekan-rekan kita berminat untuk menggunakan kesempatan kedua (atau ketiga) ini; bisa karena belum move on dari perguruan tinggi/ jurusan idaman dahulu, atau karena jatuh cinta pada perguruan tinggi / jurusan lain. Jika load game itu benar-benar ada, maka itulah solusi paling efektif untuk masalah ini.

1. Tekan tombol power (setelah mati maka mesin mesin akan hidup lagi)
2. Lalu load saat sebelum kekalahan penting tadi
3. Usaha semaksimal mungkin

Sederhana, tetapi.. SADAR WOY! Kita tidak di San Andreas-nya GTA sehingga bisa cabut saja listriknya atau kita saya bukanlah Tome Cruise sehingga lebih baik mati agar hidup dari awal lagi. Bukan. Oleh karena itu pasti kita harus mempertimbangkan ajakan "masih ada waktu untuk berpikir, bro" tadi. Banyak yang harus kita pertimbangkan, tidak sesempit masalah lolos atau tidaknya kita pada kesempatan kedua (atau ketiga) ini. Mulai dari niat sampai kemungkinan yang bakal terjadi setelah -seandainya- lolos. Berikut penulis coba mengulas satu-satu (secara ringan) beberapa hal yang bisa dipertimbangkan menurut penulis dan dari survey mendadak kepada teman-teman K-04 FMIPA. Cekidot.

  1. Niat
    Dalam hal apapun niatlah yang paling penting. "Innamal a'malu binniyat". Potongan hadits yang menjadi hadits pertama dalam shahih Imam Bukhari ini sudah cukup menggambarkan peran niat dalam setiap hal. Apalagi dalam mengambil kesempatan kedua ini. Mungkin sah-sah saja niatnya apapun, namun masalahnya jika niatnya hanya untuk "main-main" saja atau ingin "uji kemampuan" di SBMPTN atau tes mandiri. Bray, di luar sana banyak adik-adik atau rekan-rekanmu yang ingin ikut menikmati kuliah sehingga harus mempersiapkan diri sungguh-sungguh, sedangkan kamu hadir sebagai pengecil kesempatannya lolos. Syukur-syukur yang coba-coba ini tidak lolos, jika lolos maka akan lebih berbahaya. "Innamal a'malu binniyat"
  2. Biaya
    Setelah niat, saya langsung loncat ke masalah biaya. Biaya disini tidak terbatas biaya Rp. 100.000 untuk pendaftaran SBMPTN atau tes mandiri saja, tetapi biaya ketika kita masuk yang tentunya bukan jumlah yang kecil.
  3. Waktu (dari Firman Wahyudi)
    Satu tahun bagi kita bukan waktu yang sebentar, bro. Terkhusus untuk jurusan yang memang butuh waktu yang agak lama, ini benar-benar harus jadi bahan petimbangan. Banyak hal yang bisa-bisa saja ikut terkorbankan karena waktu ini, salah satunya adalah poin di bawah.
  4. Cewek yang diincar keburu nikah (dari M. Rizki Fadillah)
    Untuk bagian ini saya belum paham. Maaf, bro. Tapi pasti ada benarnya.
  5. Teman dan lingkungan yang berubah (dari Abiyoga)
    Ketika kita menjadi salah satu mahasiswa di suatu perguruan tinggi, kita tentunya perlu beradaptasi dengan teman-teman yang baru. Hal ini bagi sebagian orang bukanlah hal yang mudah. Namun jika ditinggalkan malah akan lebih berbahaya, sehingga mau tidak mau beradaptasi ke lingkungan baru menjadi kewajiban. Nah, bagaimana jika masuk lagi, tentunya adaptasi lagi. Bagi yang mudah untuk beradaptasi ini tidak menjadi persoalan, nah bagi kita susah (banget) akan menjadi problem besar.
  6. Ingat nasib adikmu! (dari Zulfikar 'Enji')
    Sekarang kita berbicara masalah perasaan, bray. Ini serius, ini tentang orang-orang yang udah berbahagia hampir sama bahagianya dengan kita yang lolos ke perguruan tinggi ini. Mereka yang sudah menancapkan harapan di dalam hati bahwa kesempatan lolos menjadi mungkin sejak kamu lolos. Coba bayangkan jika kita tes lagi, dan bayangkan apa yang dirasakan adik-adik itu. Ceritakan pada saya.. Kalau masalah perasaan masih lumayan, kita hanya mengurangi motivasinya. Bagaimana jika kita juga merusak secara teknis? Apa yang disebut orang sebagai blacklist bisa-bisa saja terjadi. Ini baru fatal.
  7. Jatuh cinta pada jurusan lain lagi
    Sekarang kita berbicara masalah perasaan lagi, bray. Saat ini kita memutuskan untuk tes lagi di jurusan lain bisa saja karena kita baru saja jatuh cinta pada jurusan baru tersebut. Mungkin karena jurusan tersebut lebih baik dari jurusan sekarang, atau mungkin karena alasan-alasan yang tidak bisa dijelaskan. Yah namanya saja jatuh cinta, alasan kadang bisa diabaikan.
    Dari sana kita bisa menyimpulkan bahwa jatuh cinta pada suatu jurusan bukan hal yang terbatas untuk sekali atau dua kali saja, kan? Dengan kata lain, jika kita memenuhi hasrat untuk memakai kesempatan ini, kita sama saja membuka peluang untuk jatuh cinta lagi di tahun berikutnya. Apakah ada jaminan untuk tidak jatuh cinta lagi?

    Mungkin ada yang bakal menyanggah pernyataan di atas dengan lirik lagu Sheila On 7:

    "Mudah saja bagimu.. Mudah saja untukmu.. Andai saja.. Cintamu seperti cintaku.."

    Mohon maaf, jawabanku: "Tolonglah.."


***

Baik, sebagai penutup saya ingin membantu dengan memberikan satu solusi bagi yang berubah pikiran, tidak jadi tes lagi. Intinya berawal dari poin ke-7 di atas. Belajar dari guru kita, Salim A. Fillah, dalam bukunya Jalan Cinta Para Pejuang ia menekankan pentingnya mengubah makna dari jatuh cinta menjadi bangun cinta. Mari kita tengok ke belakang, mungkin jurusan yang telah kita jalani ini dahulu adalah produk dari jatuh cinta kita. Seperti penjelan di poin ke-7, ini memungkinkan kita untuk jatuh cinta lagi dan lagi. Kemungkinan kita untuk jatuh cinta pada suatu jurusan ini tidak sebanding dengan batas maksimum tes SBMPTN (3 kali), belum lagi mempertimbangkan banyak hal lain.

Sekali lagi tengok ke belakang, kita gunakan solusi yang diberikan Ustad Salim: Mari bangun cinta! Mari kita membangun cinta di jurusan kita yang sekarang. Temukan titik-titik keindahan di jurusan ini yang membuat kita semakin ingin membangun cinta. Niatkan karena Allah ta'ala, maka usaha kita untuk bangun cinta ini bisa menjadi ungkapan syukur atas kemudahan yang diberikan oleh Allah sehingga bisa duduk di kampus ini dan syukur atas segala nikmat-Nya. "Masih ada waktu untuk berpikir, masih ada waktu untuk bangun cinta, bro."





"Jika kita menghijrahkan cinta; dari kata benda menjadi kata kerja maka tersusunlah sebuah kalimat peradaban dalam paragraph sejarah. Jika kita menghijrahkan cinta; dari jatuh cinta menuju bangun cinta maka cinta menjadi sebuah istana, tinggi menggapai surga."
-Salim A. Fillah-